Resensi Buku: Srimulat. Aneh Yang Lucu

Senin, 10 Okt '11 11:29 • 0 komentarLain-lain

cov_srimulat.pngJudul: Srimulat. Aneh Yang Lucu


Penulis: Sonny Setiawan dan Agung PW
Penerbit: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri Solo, Maret 2011

ALKISAH, pada 1983, Gepeng dicokok karena menyimpan senjata api ilegal. Pelawak andalan Srimulat ini divonis lima bulan tahanan. Ia gemetar. Bui berarti “kuburan” bagi karirnya yang sedang melesat. Dalam situasi tak menentu itu, tiba-tiba Presiden Soeharto mengeluarkan grasi bagi Freddy Aris—nama asli Gepeng. Masyarakat terperanjat.

Gepeng sendiri tak percaya: “Iki tenanan opo ora?” Rupanya, sang komedian adalah idola Keluarga Cendana. Waktu itu, Ari Sigit– cucu Soeharto– ingin menghadirkan Gepeng di pesta ulang tahunnya. Sang kakek pun “turun tangan”. Ini hanya satu kisah unik dalam Srimulat. Aneh Yang Lucu. Buku 221 halaman ini ditulis Sonny Setiawan dan diterbitkan Metagraf, Solo, Maret lalu.

Didirikan pada 1950, Srimulat adalah kelompok kesenian musik dan vokal. Ia berkeliling ke kota-kota di Jawa di masa sebelum kemerdekaan. Konsepnya mulai bergeser menjadi pertunjukan dagelan. Jumlah anggotanya pun berkembang luar biasa. Hingga kini, tercatat ada 1500 orang yang pernah menjadi kru Srimulat—dari pelawak, pemain musik, hingga teknisi.

Tak pelak, Srimulat adalah kelompok penghibur terbesar dan terpanjang nafasnya di negeri ini. Ia mencuatkan ratusan nama pelawak legendaris: Tarzan, Basuki, Asmuni, Mamiek, Tessy, Kadir, Doyok, Tukul, Nunung, Gogon, dan banyak lagi. Termasuk yang kini tak lagi di dunia tawa: pedangdut A. Rafiq.

Sejak dulu, kelompok ini mesra dengan TNI. Ibu Srimulat, sang pendiri, disebut-sebut sebagai agen intelijen militer di zaman perang kemerdekaan. Rahasia ini dibawanya ke liang kubur. Di awal 1990, Djudjuk mendapat daftar intel tentara. Ibu Srimulat salah satunya. Hingga kini, ada tiga anggota Srimulat berlatar militer: Tessy, Triman dan Pak Bendot. Triman pernah bertugas di Kodam Diponegoro dan meraih lima penghargaan Satya Lencana. Tessy mantan anggota KKO Marinir yang ikut operasi pembebasan Irian Barat. Pak Bendot, pensiunan Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Satu.

Pada 1971, Srimulat menjajal panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Meski sukses di Jawa Tengah dan Timur, Jakarta adalah tantangan sulit. Orang Jakarta adalah penonton yang keras dan tega untuk mencemooh. Pementasan ini sukses dan mengantar Srimulat ke era baru sejak 1981: TVRI. Dari televisi lahirlah setting khas: ruang tamu keluarga kaya dengan seorang pembantu menggelesor di bawah. Menjadi jongos adalah dambaan semua anggota Srimulat. Dialah superstar panggung— hanya untuk pemain kelas teratas.

Kini, di 2011, banyak pelawak Srimulat yang telah dinisankan. Toh nafas kelompok lawak ini masih sangat panjang. Di bawah pimpinan Eko Saputro, anak Teguh Slamet Rahardjo dan Djudjuk, Srimulat tetap Berjaya di panggung hiburan Indonesia. Untuk “memudakan diri”, manajemen kini meracik program perekrutan anggota baru di sebuah stasiun TV: Srimulat Next Generation.

Ditulis oleh Andari Karina Anom di Denanti

Komentar

Belum ada komentar.

or create account to post comments